Seandainya anda membawa seorang yang dilahirkan buta ke suatu taman dan berkata kepadanya bahwa dia sedang berdiri di depan sebuah pohon mangga. Anda dapat menjelaskan kepada orang buta tersebut bagaimana bentuk buahnya. Tetapi akankah dia mengerti perkataan Anda? Bahkan jika dia sangat pandai, mempunyai daya pembeda yang baik, dan memiliki telinga yang sangat tajam, dia akan tetap tidak mengerti bagaimana rupa pohon mangga. Anda dapat mengatakan betapa hijaunya, tetapi dia tidak akan mengerti apa itu hijau. Alam suara berbeda dengan alam penglihatan, dan alam penglihatan berbeda dengan alam pikiran.
Dengan cara yang sama, seseorang harus melatih rohnya sebelum ia dapat menyadari alam rohani. Mereka yang memiliki mata mungkin tidak benar-benar melihat; seseorang harus melatih fungsi matanya sebelum ia dapat melihat. Orang buta tidak dapat melihat pohon mangga. Orang dengan mata yang baik hanya akan dapat melihat pohon mangga jika ia membuka matanya. Orang buta tidak dapat melihat pohon mangga dengan telinganya. Seseorang yang normal juga tidak dapat melihat jika ia hanya menggunakan telinganya. Permasalahan hari ini adalah yang buta tidak memiliki mata untuk melihat pohon mangga, sementara yang memiliki mata sehat berusaha mendengarkan pohon mangga dengan telinga mereka.
Manusia duniawi tidak dapat mengenal Allah; tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Dia dengan menggunakan perasaan duniawi. Akan tetapi orang yang memiliki roh kelahiran kembali juga tidak akan dapat mengenal Allah jika ia hanya menggunakan jiwanya. Ini bukan berarti bahwa siapa pun yang memiliki roh dapat mengenal Allah. Bahkan setelah Roh Allah masuk ke dalam seseorang, masih mungkin bagi orang tersebut untuk tidak mengenal Allah. Hikmat dan kepandaian tidak menolong orang yang belum percaya untuk mengenal Allah; juga tidak dapat membantu orang Kristen mengenal Allah. Pengetahuan tidak membantu orang yang belum percaya memahami Alkitab; juga tidak membantu seorang Kristen untuk memahami Alkitab.
Cara untuk memahami Alkitab adalah dengan roh. Ini bukan hanya perkara memiliki roh, tetapi perkara menjadi rohani. Tidak ada seorang pun yang berkata bahwa ia memiliki roh tetapi tidak perlu hidup seturut dengan rohnya itu dan sebaliknya dapat hidup dengan caranya yang lama. Cara yang demikian tidak dapat diterima ketika seseorang tidak memiliki roh kelahiran kembali; juga tidak dapat diterima sekarang setelah ia memiliki roh kelahiran kembali. Cara dasar untuk memahami Alkitab adalah melalui roh. Inilah alasan yang Paulus tunjukkan kepada kita dalam 1 Korintus 2 bahwa permasalahannya bukan pada memiliki roh atau tidak memiliki roh, tetapi pada rohani atau tidak rohani. Perkara rohani hanya dapat dikenali oleh manusia rohani.